Substitusi Impor Jadi Cara Jitu Perkuat Manufaktur Indonesia, Ini Strateginya

JAKARTA – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sedang menggodok peta jalan substitusi impor sebesar 35 persen pada 2022.

Secara garis besar ada dua strategi yang akan diterapkan dalam peta jalan tersebut. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan akan mengintegrasikan peta jalan substitusi impor dengan program Making Indonesia 4.0.

Pasalnya, penggunaan teknologi dapat menurunkan biaya operasional dan meningkatkan produktivitas.

Baca Juga : Edhy Prabowo: Ekspor Hasil Perikanan Naik 6,9 % Saat Pandemi

“Pada ujungnya, [produk lokal] memiliki daya saing [lebih] dibandingkan produk-produk negara lain. Jadi, salah satu kuncinya bagaimana pabrikan bisa menerapkan teknologi generasi keempat dalam kegiatan manufakturnya,” katanya, Selasa (4/8/2020).

Agus menyatakan salah satu strategi yang diterapkan dalam peta jalan substitusi impor tersebut adalah pengurangan nilai impor pada 10 sektor industri. Adapun, 10 sektor industri tersebut berkontribusi hingga 88 persen dari total nilai impor pada 2019.

Kesepuluh sektor tersebut secara berurutan dari yang terbesar adalah industri mesin, kimia, logam, elektronika, makanan, peralatan llistrik, tekstil, kendaraan bermotor, barang dari logam, dan karet dan barang dari karet. Total nilai impor sepuluh sektor manufaktur tersebut mencapai 1.676 triliun tahun lalu.

Baca Juga : Ini Langkah Bea Cukai Pantoloan Tingkatkan Ekspor Sulawesi Tengah

Agus menilai pengurangan nilai impor pada sektor-sektor tersebut dapat mendorong pendalaman struktur industri. Alhasil, akan ada peningkatan investasi dan penyerapan tenaga kerja baru.

Selain pengurangan impor, strategi lainnya adalah peningkatan utilisasi produksi seluruh sektor manufaktur. Seperti diketahui, utilisasi sektor manufaktur anjlok ke level 40 persen pada awal masa pandemi.

Saat ini, utilisasi sektor manufaktur telah naik ke level 49,5 persen pada akhir semester I/2020. Agus menargetkan angka tersebut akan terus naik ke kisaran 60 persen pada akhir 2020.

Adapun, Agus meramalkan kondisi utilisasi sektor manufaktur baru akan kembali seperti kondisi pra-pandemi atau di kisaran 75 persen pada akhir 2021.
Setelah itu, lanjutnya implementasi peta jalan substitusi impor akan membuat utilisasi sektor manufaktur meningkat ke level 85 persen atau sama dengan realisasi akhir 2000.

Menurutnya, strategi peningkatan utilisasi akan difokuskan untuk mengakomodir tenaga kerja terdampak pandemi Covid-19, sedangkan pengurangan nilai impor untuk memfasilitasi tenaga kerja baru.

Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat saat ini tenaga kerja yang telah terdampak oleh pandemi COvid-19 mencapai 7-8 juta orang. Sementara itu, jumlah tenaga kerja yang seelumnya tengah mencari kerja sekitar 7 juta, sedangkan jumlah tenaga kerja baru nasional bertambah sekitar 2,5 juta per tahunnya.

Sebagai catatan, lokomotif penciptaan tenaga kerja didorong oleh tiga aspek, yakni konsumsi rumah tangga, investasi, dan performa ekspor. Adapun, saat ini peningkatan konsumsi rumah tangga dan performa ekspor sulit lantaran daya beli masyarakat yang rendah.

Oleh karena itu, Agus menyatakan penyerapan tenaga kerca terdampak pandemi menjadi salah satu cara untuk meningkatkan utilisasi pada tahun ini. Selain itu, lanjutnya, cara lainnya adalah meningkatkan kemampuan belanja dalam negeri dan meningkatkan performa ekspor.

“Secara umum, upaya kami agar lebih menyehatkan neraca perdagangan dan juga, dalam konteks Kemenperin, kemandirian industri dalam negeri,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di bisnis.com dengan judul “Substitusi Impor Jadi Cara Jitu Perkuat Manufaktur Nasional, Ini Strateginya”, https://ekonomi.bisnis.com/read/20200804/257/1274925/substitusi-impor-jadi-cara-jitu-perkuat-manufaktur-nasional-ini-strateginya-

Editor : David Eka Issetiabudi

Loading spinner
Show Buttons
Hide Buttons