Produk Industri Kayu Dominasi Ekspor, Neraca Dagang Jateng Surplus Tertinggi selama 3 Tahun Terakhir

Hisconsulting, SEMARANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng mencatat terjadinya surplus neraca perdagangan luar negeri Jateng pada September 2021 mencapai 149,68 juta dollar AS, sekaligus merupakan yang tertinggi selama 3 tahun terakhir.

Plt Kepala BPS Jateng, Sentot Bangun Widoyono mengatakan, surplus itu terjadi menyusul terjadinya peningkatan ekspor, sementara impor mengalami penurunan.

Menurut dia, ekspor Jateng pada September 2021 tercatat mencapai 1,02 miliar dollar AS, naik sebesar 6 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya atau month to month (mtm), sedangkan impor Jateng mengalami penurunan 22,98 persen mtm menjadi 875,98 juta dollar AS. 

“Hal itu seiring terkendalinya kasus covid-19 diiringi perbaikan ekonomi. Ini menunjukkan besarnya permintaan dari rest of the world atau luar negeri,” katanya, secara virtual, Senin (1/11).

Sentot menuturkan, ekspor Jateng pada September 2021 juga melonjak tajam dari periode sama 2020, yaitu mencapai 40,18 persen.

“Kalau diperhatikan, ekspor nonmigas terlihat semakin melebar (meningkat tajam-Red) dibandingkan dengan yang dicapai pada September 2020 dan 2019. Ini mudah-mudahan menjadi indikasi bahwa aktivitas ekonomi Jateng telah pulih kembali, dan telah memenuhi permintaan konsumen di luar negeri,” ungkapnya.

Menurut dia, komoditas kayu dan produk industri kayu memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan ekspor Jateng pada September 2021, dengan mencatat kenaikan sebesar 12,56 juta dollar AS, diikuti komoditas alas kaki yang naik 11,46 juta dollar AS.

“Selain itu berbagai produk kimia naik sebesar 8 juta dollar AS, pakaian naik 7,09 juta dollar AS, sementara yang paling menggembirakan adalah adanya kenaikan ekspor sayuran sebesar 6,94 juta dollar AS,” jelasnya.

Sentot menyatakan, negara yang meningkatkan demand terhadap produk asal Jateng tertinggi yakni Tiongkok, diikuti Jepang, AS, India, dan Taiwan.

“Secara demand (permintaan), peningkatan ekspor terbesar produk Jateng ke Tiongkok sebesar 22,47 juta dollar AS, Jepang 22,29 juta dollar AS, AS sebesar 20,99 juta dollar AS, India 6,75 juta dollar AS, dan Taiwan 5,07 juta dollar AS,” jelasnya.

Namun, ia berujar, ekspor komoditas minyak justru menurun pada September 2021 menjadi 61,17 juta dollar AS, dari bulan sebelumnya mencapai 82,57 juta dollar AS, atau turun sebesar 25,92 persen.

“Ada juga ekspor komoditas lain yang menurun walaupun tidak terlalu siginfikan, mulai dari kertas, kain rajutan, susu, mentega, dan lain-lain,” paparnya.

Perluas pasar

Adapun, Bank Indonesia (BI) Jateng terus mendorong UMKM untuk memperluas pasar, terutama ke luar negeri. Kepala BI Jateng, Pribadi Santoso menyatakan, kontribusi UMKM terhadap ekspor saat ini dinilai masih rendah, sehingga perlu adanya dukungan untuk akses pasar lebih luas.

“Lebih dari 95 persen tenaga kerja kita porsinya ditopang oleh UMKM, jadi perannya terhadap tenaga kerja relatif tinggi. Sementara kontribusi UMKM terhadap ekspor masih rendah, kurang dari 15 persen. Ekspor ini kami dorong supaya bisa menutup daya beli yang masih rendah di domestik dari sisi ekspornya,” katanya, baru-baru ini.

Pribadi berujar, produk UMKM di Jateng telah terbuka lebar untuk pasar internasional, utamanya yakni di Eropa dan AS yang dinilai sangat potensial, dengan banyaknya peminat terhadap produk tersebut.

Menurut dia, permintaan ekspor untuk komoditas non-migas pada 2021 secara nasional sepanjang Januari-Agustus tumbuh 37 persen yoy, didorong oleh ekspor produk karet dan kayu, dengan negara tujuan ekspor Tiongkok 22,1 persen, ASEAN 19,7 persen, AS 11,8 persen, dan Uni Eropa 8,31 persen.

Sementara negara tujuan dari ekspor non-migas khusus produk furniture adalah AS 39,8 persen, Jepang 9,1 persen, Tiongkok 6,9 persen, Uni Eropa 13,17 persen, dan ASEAN 5,91 persen, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Hal itu pulalah yang menurutnya penting bagi produk UMKM Jateng memiliki showroom di Uni Eropa, yang di antaranya kini telah diupayakan di Belgia.

“Pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat ini potensial selain pasar Jepang dan Tiongkok, karena lebih dari 50 persen ada di Eropa dan Amerika Serikat. Harapannya dengan ruang show di Belgia, produk-produk kita semakin dikenal oleh masyarakat Uni Eropa, sehingga nanti permintaannya meningkat,” terangnya.

Pribadi menyebut, dalam upaya ekspor saat ini masih ada kendala dalam perdagangan global. Di antaranya yakni melambungnya harga minyak yang memberikan dampak bagi pasar ekspor.

Namun, dia menambahkan, untuk melakukan pameran produk UMKM furniture di Belgia itu, BI Jateng melakukan promosi bersama Pemprov Jateng bekerja sama dengan Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jateng, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, dan Codesignhub-Belgium.

BI Jateng dalam hal ini mengikutsertakan UMKM Binaan dalam pameran tersebut, yakni delapan UMKM yang produknya dikirim ke Belgia, dua UMKM merupakan binaan/mitra BI Jateng yang telah menjadi peserta UMKM Gayeng, yaitu Naruna Ceramic, dan Kibti Craft. Nilai produk yang diikutsertakan dalam pameran furniture di Belgia sekitar 16.704 dollar AS (sekitar Rp 237 juta).

Produk akan dikirimkan pada 7 November, untuk selanjutnya ditampilkan pada acara pameran furniture di Antwerpen, Belgia. “Kami memberikan support untuk menembus pasar ekspor, yaitu bagaimana cara UMKM ini naik kelas,” tandasnya. (idy/nal)

Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Produk Industri Kayu Dominasi Ekspor, Neraca Perdagangan Jateng Surplus Tertinggi dalam 3 Tahun Ini, https://jateng.tribunnews.com/2021/11/05/produk-industri-kayu-dominasi-ekspor-neraca-perdagangan-jateng-surplus-tertinggi-dalam-3-tahun-ini.

Show Buttons
Hide Buttons