Ini Strategi Bea Cukai Batam untuk Mempercepat Pengembangan BLE

Hisconsulting, BATAM – Bea Cukai Batam menyiapkan strategi mempercepat pengimplementasian dan pengembangan Batam Logistic Ecosystem (BLE).

Setelah berhasil mematangkan digital platform BLE, BC Batam menempuh langkah selanjutnya yakni menggelar kegiatan piloting bagi para penyedia platform dan perusahaan volunteer .

Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Batam Sulisa Brata menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata mereka dalam proses penerapan BLE.

Tak hanya itu, pihaknya juga berkomitmen selalu mengakomodasi kebutuhan para pengguna jasa yang berkaitan dengan BLE.

“BLE sudah diinisasikan oleh Bea Cukai Batam sejak Januari tahun 2020 lalu. Berbagai analisis dan pendalaman telah dilakukan oleh tim BLE yang juga berkoordinasi dengan tim NLE untuk berjalannya platform BLE ini. Kami juga telah mempresentasikan BLE ke Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi,” ungkap Susila. Sebelumnya, BC Batam menggelar FGD kolaborasi Government to Business to Business (G2B2B) dengan private sector sebagai upaya mengembangkan BLE.

Kegiatan ini melibatkan banyak pihak mulai dari sektor pemerintah, perusahaan forwarder, himpunan dan asosiasi, perusahaan pengembangan IT hingga perbankan.

Pada kegiatan ini juga semua pihak yang terlibat saling menguatkan satu sama lain demi terciptanya ekosistem logistik yang baik di Batam.

“BLE bukanlah suatu hal yang dapat berdiri sendiri, tidak hanya satu atau dua lembaga saja yang bergerak tetapi kita semua harus ikut terlibat dalam pengembangan BLE ini dan harus saling berkolaborasi dalam penataan ekosistem logistik di Indonesia,” ucap Susila.

Rencana pengembangan BLE selanjutnya lebih berfokus pada sistem teknologi informasi serta manajemen kinerjanya, penguatan keamanan dan pengembangan API serta memperkaya fitur dan layanan yang ada.

Dengan demikian BLE akan menjadi platform berstandar internasional yang dapat memudahkan para pelaku logistik di Batam.

Perbaikan infrastruktur pelabuhan juga terus dilakukan.

Pemasangan auto gate system di Pelabuhan Batu Ampar telah dilakukan untuk mempercepat proses keluar masuknya sarana pengangkut kontainer.

Ke depannya Pelabuhan Batu Ampar diharapkan mampu menjadi pelabuhan green port berstandar internasional.

Pengembangan sistem otomasi yang saling terintegrasi akan memudahkan para pelaku logistik dalam mengawasi kegiatan dan lalu lintas barang yang dimiliki.

Salah satunya adalah sistem trucking yang ada di dalam BLE.

Dalam sistem ini terdapat QR code dan gate pass yang secara otomatis akan merekam data sarana pengangkut darat yang keluar atau masuk pelabuhan.

Dalam kesempatan tersebut, Bank Mandiri juga hadir untuk bekerja sama memberikan layanan pembayaran pada platform NLE.

Bank Mandiri menyediakan mekanisme pembayaran dalam metode splitting, di mana pelaku usaha hanya perlu melakukan pembayaran satu kali atas seluruh layanan yang didapatkan dari penyedia jasa logistic (service provider).

Pemisahan (splitting) dan disburse dana kemudian dilakukan secara sistem melalui Bank Mandiri kepada masing-masing service provider.

Asst Vice President Transaction Banking Wholesale Group Bank Mandiri, Rizcky Chandrasanjaya menyampaikan, mekanisme splitting ini baru dijalankan di platform NLE.

“Jadi ini betul-betul inovasi baru, dan dengan inovasi NLE ini bisa langsung credit-kan ke rekening masing-masing service provider,” ujarnya.

Pelaku usaha cukup mengakses platform NLE dan memilih layanan dari service provider.

Pelaku usaha kemudian akan mendapatkan nomor Mandiri virtual account dan dapat melakukan pembayaran melalui semua channel bank.

Mekanisme ini tentunya sama-sama memudahkan kedua pihak, baik pelaku usaha maupun service provider.

Service provider dapat langsung menerima dana secara real time dan pelaku usaha juga dapat segera mendapatkan layanan logistik dari service provider.

Penerapan BLE akan meringkas dan mempercepat proses bisnis yang sebelumnya bersifat manual menjadi otomatis.

Dengan berubahnya proses bisnis menjadi otomasi yang diatur oleh sistem tentu saja akan meningkatkan efisiensi biaya dan waktu yang diperlukan.

Layanan ship to ship/ floating storage unit yang sebelumnya dilakukan secara manual membutuhkan waktu pengurusan selama tiga hari, namun setelah adanya BLE pengurusan hanya membutuhkan waktu satu hari.

Tak hanya itu, proses perizinan usaha yang semula membutuhkan waktu validasi selama satu hari bisa dipercepat menjadi 30 menit. (*/jpnn)

Artikel ini telah tayang di JPNN.com dengan judul “Inilah Strategi Bea Cukai Batam untuk Mempercepat Pengembangan BLE”, https://www.jpnn.com/news/inilah-strategi-bea-cukai-batam-untuk-mempercepat-pengembangan-ble

Show Buttons
Hide Buttons